Jumat, 27 Maret 2015

Istilah dalam lensa NIKON

AF

Singkatan dari Auto Focus, artinya lensa bisa fokus secara otomatis melalui kamera.

AF-D – Auto Focus with Distance Information

Artinya same seperti AF dengan tambahan bahwa lensa mampu mengirim informasi jarak antara obyek foto dan lensa ke kamera yang oleh kamera akan dipakai untuk menentukan metering

SWM – Silent Wave Motor

Lensa dengan nama ini memiliki kemampuan mengganti fokus dari auto focus ke manual focus secara cepat hanya dengan memutar focusing ring, tanpa harus mengganti mode focusing seperti hanlanya di lensa AF-D

AF-S – Auto Focus Dengan Silent Wave Motor

Lensa AF-S memiliki motor didalamnya sehingga bisa bekerja dengan semua jenis kamera DSLR Nikon yang tidak memiliki motor sendiri; kamera ini antara lain: D40/D40X, D60, D5000.

IF – Internal Focusing

Lensa mampu mencari fokus secara cepat hanya dengan menggerakkan elemen-elemen internal tanpa harus menggerakkan barel lensa (tanpa harus menggerakkan dan atau memanjangkan bagian depan lensa). Lensa dengan fitur IF mampu mencari fokus lebih cepat dibandingkan lensa non IF, lensa ini antara lain: Nikon 18-200mm f/3.5-5.6 VR II dan Nikon 70-200mm f/2.8 VR II.

RF – Rear Focusing

Cara lensa mencari fokus adalah dengan menggerakkan elemen internal di bagian belakang lensa.

G

Jika anda melihat huruf G dibelakang aperture lensa, misalnya: Nikon 50mm AF-S f/1.4G, artinya bahwa lensa tersebut tidak memiliki ring untuk mengatur aperture. Hampir semua lensa modern Nikon bertipe G.

Micro

Artinya sama dengan Macro, artinya lensa dengan spesialisasi untuk fotografi makro (jarak dekat).

PC-E – Perspective Control with Electronic Diapragm

Memungkinkan teknik tilt-shift, alias lensa bisa digeser dan dibengkokkan.

ED – Extra Low Dispersion

Adalah lensa dengan chromatic aberration minimal, lensa ini tidak menyebarkan cahaya yang membuat munculnya chromatic aberration di foto. Apa itu Chromatic Aberration?

DC – Defocus Control

Lensa dengan fitur ini memungkinkan kita mengontrol bokeh (apa itu bokeh?), yang biasanya bagus untuk foto potret.

VR – Vibration Reduction

Memungkinkan kita menggunakan lensa dalam shutter speed yang rendah hanya dengan memeganngya tanpa harus membutuhkan tripod. Lensa dengan VR dilengkapi dengan sensor gerakan yang mendeteksi pergerakan tangan dan kemudian mengkompensasinya sehingga bisa meminimalisir blur.

SIC – Super Integrated Coating

Lensa dengan fitur ini mampu menghasilkan warna yang lebih bagus dan biasanya mampu mengeliminir ghosting dan flare.

N – Nano Crystal Coat

Huruf N biasanya ditampilkan dengan stiker emas dibagian atas. Lensa dengan nano crystal coat mampu meminimalkan ghosting dan internal flare sehingga foto yang dihasilkan bisa lebih jernih (clarity).

Dx

Lensa dengan huruf DX berarti lensa tersebut khusus didesain untuk digunakan dengan kamera DX milik Nikon seperti D3000/D5000/D90/D300s. Lensa DX juga bisa dipakai dikamera full frame Nikon (FX), hanya resolusi foto yang dihasilkan hanya separuhnya.

Teknik Fotografi


Menjadi seorang fotografer bukan berarti kerjamu hanya tekan tombol shutter saja. Diperlukan skill dan penguasaan teknik-teknik khusus fotografi untuk menunjang karirmu dalam bidang ini, sehingga kamu bisa bersaing dengan fotografer yang jumlahnya tak terhingga di dunia ini. Selain itu, dengan memahami teknik-teknik fotografi, kamu dapat membuat hasil fotomu lebih variatif.
Foto pemandangan? Foto manusia? Itu biasa. 5 teknik fotografi dibawah ini sanggup menghasilkan foto-foto berkelas yang menakjubkan, bahkan dengan objek paling biasa sekalipun.

High-Speed Photography
Pernah melihat foto balon meledak, percikan air atau kaca pecah? Nah, foto-foto ini dihasilkan dengan teknik high-speed photography. Objek yang bergerak akan menimbulkan efek blur ketika dipotret, dan beberapa fotografer menginginkan mereka “beku” sejenak untuk mendapatkan gambar yang fantastis. Teknik ini membuat hal-hal yang terjadi dengan cepat dan secara normal tidak akan tertangkap mata menjadi mungkin untuk diabadikan. Amazing, right?

Tilt-Shift Photography
Tilt-shift photography adalah teknik fotografi unik dan kreatif yang mampu memanipulasi objek atau lokasi dengan ukuran sebenarnya menjadi terlihat seperti model miniatur. Untuk membuat efek ini, potret gambar dari sudut yang tinggi, sehingga akan tercipta ilusi seperti sedang melihat sebuah model miniatur. Kamera yang dilengkapi dengan lensa tilt-shift adalah yang kamu butuhkan untuk memulai teknik ini agar menghasilkan depth of field yang sempit.

High Dynamic Range Photography (HDR)
Teknik fotografi menakjubkan ini akan mampu mengaburkan pengertian kita akan perbedaan antara ilusi dan kenyataan. Foto HDR adalah teknik yang mampu membuat rentang dinamis dari eksposur yang jauh lebih besar dibandingkan dengan teknik digital imaging biasa, sehingga dapat memunculkan tingkat intensitas level yang jauh berbeda antara cahaya dengan bayangan. Biasanya teknik ini dilakukan dengan memodifikasi foto dengan software pengolahan gambar. Hasilnya? Luar biasa, tentu saja.

Smoke Art Photography
Asap merupakan hal biasa dalam kehidupan kita. Tapi tahukah kalian kalau asap bisa dijadikan objek untuk mengasilkan karya seni? Smoke art photography membuat hal yang biasa-saja ini menjadi luar biasa. Asap ini bisa digunakan sebagai objek atau sebagai media untuk membuat sesuatu yang lain. Beberapa fotografer menggunakan teknik fotografi ini untuk mengabadikan kecantikan dan kealamian dari asap ini, sementara fotografer lainnya menggunakannya untuk “melukis”, menghasilkan suatu karya seni yang amat menakjubkan.

Motion Blur Photography
Berbeda dengan high-speed fotografi yang sengaja “membekukan” objek foto, teknik fotografi motion blur menangkap keindahan dari sesuatu yang bergerak justru dari efek blurnya. Motion blur biasanya digunakan untuk memunculkan kesan gerakan yang cepat. Kamu bisa mendapatkan efek ini dengan menggunakan kecepatan shutter yang lambat (slow shutter speeds).



Mengontrol Auto Fokus

Ada beberapa cara untuk mengontrol autofocus. Pertama, mengubah posisi kamera setelah autofocus mengunci titik yang dituju dengan cara mempertahankan tombol shutter ditekan setengah jalan. Setelah posisi kamera sesuai dengan yang diinginkan, tombol shutter dapat ditekan penuh. Kedua, mengubah pengaturan lensa menjadi manual setelah titik yang dituju tampak jernih menggunakan autofocus. Ketiga menggunakan fasilitas back button autofocusing. Fasilitas back button autofocusing memiliki nama yang berbeda untuk kamera dengan produsen yang berbeda pula. Pada kamera D90 keluaran Nikon yang saya miliki tombol tersebut bernama AE-L/AF-L. Letaknya persis di sebelah kanan viewfinder tempat kita mengintip obyek yang akan diambil gambarnya. Dua cara pertama mendahulukan upaya memfokuskan obyek kemudian mengubah posisi kamera sedangkan teknik terakhir bisa menjernihkan gambar dahulu atau menentukan posisi kamera dahulu sesuai keinginan.

Dengan teknik back button autofocus, jika ingin memfokuskan obyek terlebih dahulu kita tinggal menekan tombol shutter setengah seperti biasa kemudian menguncinya dengan menekan tombol AE-L/AF-L. Setelah itu baru mengubah posisi kamera seperti yang diinginkan. Akan tetapi cara ini mengandung risiko yaitu perubahan posisi kamera sedikit atau banyak juga dapat mempengaruhi kejernihan objek yang dituju. Masalah tersebut dapat diatasi dengan cara sebaliknya.  Ada beberapa perubahan setting kamera untuk melakukan teknik ini. Pertama, AF-area Mode perlu diubah menjadi single point tujuannya agar kita bisa menentukan titik mana yang akan digunakan sebagai panduan bagi kamera untuk memfokuskan obyek. Kedua, mengaktifkan tombol AF-ON. Dengan demikian setelah menentukan posisi kamera dengan titik fokus yang tepat, kita bisa menjernihkan gambar dengan menekan tombol AE-L/AF-L. Namun demikian cara ini juga tidak lepas dari kekurangan karena menentukan posisi kamera dengan titik fokus yang diinginkan juga cukup sulit dan kadang kurang memuaskan. 

Komponen dasar kamera DSLR




Komponen dasar yang terdapat pada kamera DSLR (sebagian terdapat juga pada kamera Rangefinder), yaitu:
- Lensa
- Diafragma (Aperture)
- Rana (Shutter)
- Sensor gambar digital (Digital Image Sensor)
- Memory Card
- Layar LCD
- Flash eksternal
- Jendela bidik (viewfinder)

Lensa
Sebuah lensa merupakan serangkaian elemen canggih yang biasanya terbuat dari kaca. Lensa dibentuk untuk membiaskan dan memfokuskan pantulan cahaya dari objek pada titik-titik tertentu. Sebelum membentuk gambar, interaksi pertama dengan pantulan cahaya yang datang dari objek adalah melalui sebuah lensa kamera.

Jenis-Jenis Lensa Secara Umum:
Meskipun ada banyak sub kategori jenis lensa, pada dasarnya jenis lensa yang umum dikenal adalah tele, wideangle,zoom, dan prima. Semua lensa ini melakukan fungsi dasar yang sama yaitu menangkap cahaya reflektif dari subjek dan memfokuskan pada sensor gambar namun cara mengirimkan cahaya yang dipantulkan objek berbeda.
Lensa Tele; Karakteristik dari lensa ini adalah mendekatkan objek tetapimempersempit sudut pandang. Lensa ini biasanya digunakan oleh fotografer olahraga dan fotografer binatang liar untuk mengambil objek foto yang jaraknya jauh.

Lensa Tele




Lensa Sudut Lebar (Wide Angle); Lensa ini kebalikan dari lensa tele yaitu lensa yang mempunyai focal length pendek. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya dan dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit.

Lensa Wide Angle

Lensa Zoom; Lensa zoom memiliki kemampuan untuk mengubah focal length dari wide angle ke standar dan dari standar ke zoom sehingga sangat fleksibel untuk digunakan karena memiliki rentang focal length yang cukup lebar. Lensa jenis ini di kenal juga sebagai lensa sapu jagad, akan tetapi lensa ini rawan getar, maka dari itu lensa zoom yang memiliki Image Stabilization sangat dianjurkan. 

Lensa Zoom


Lensa Prime atau Fixed Lens; Lensa yang hanya memiliki satu rentang fokal sehingga tidak bisa menggunakan zoom. Untuk yang baru belajar fotografi, lensa prime lensa yan baik untuk belajar karena Anda dipaksa untuk bergerak dan mengambil sudut pandang yang lebih baik

Kamis, 26 Maret 2015

Tips dan trik Foto Levitasi

Ada beberapa tahap ketika seseorang melompat, 1) Naik ke atas, 2) Berhenti sejenak di udara ketika titik puncak (hovering) dan 3) Turun ke bawah.
  • Tahap yang paling ideal untuk foto levitasi adalah ketika model naik ke atas, karena pada tahap ini rambut model cenderung rapi, baju pun juga masih terlihat rapi.
  • Ketika model di tahap hovering, rambut dan pakaian akan cenderung menggelembung akibat efek aksi reaksi gravitasi sehingga akan terlihat kurang natural.
  • Ketika model di tahap jatuh ke bawah maka rambut dan pakaian akan berantakan naik ke atas karena ketiup angin sehingga efek levitasinya kurang terasa.
Sebagai pelengkap, agar rambut dan pakaian tidak mudah berantakan, bisa dipakai penjepit kertas untuk menjepit rok atau baju dan menggunakan gel atau hairspray atau pakai topi agar rambut tidak mudah berantakan


Foto Levitasi dengan Editing 
Di komunitas Levitasi Hore, diperbolehkan menghasilkan foto levitasi dengan kamera apapun dan dengan cara apapun, salah satunya dengan cara rekayasa digital (Photoshop Trick). Di teknik ini, model berlevitasi tidak dengan melompat, tapi dengan menggunakan alat bantu seperti kursi, meja atau alas lain untuk menopang tubuh sambil berpose seolah-olah sedang levitasi kemudian di komputer alat bantu tersebut di hilangkan dengan software pengolah gambar seperti Photoshop. Karena itulah disebut Photoshoptrick.
Teknik ini sangat berguna untuk beberapa kondisi:

  • Model punya keterbatasan untuk melompat (berat badan berlebih atau sedang cidera kaki)
  • Konsep foto yang terlalu ekstrem sehingga sangat sulit dilakukan jika dengan melompat
  • Faktor keamanan kalau melompat (lantai licin, memakai gaun panjang atau memakai sepatu hak tinggi)

Pengertian Foto levitasi

Apa itu foto levitasi? foto levitasi adalah teknik fotografi yang membuat seseorang/sesuatu memiliki kesan seolah-olah bisa melayang terbang tanpa menggunakan alat bantu
Nah bagaimana caranya agar seseorang atau sesuatu tersebut terlihat terbang? Secara umum levitasi dilakukan dengan cara melompat, tapi bukan melompat biasa. Berikut adalah 6 tips dasar teknik foto levitasi:
1. Foto Levitasi Berbeda Dengan Foto Jump Shot (Foto Lompat)
Meskipun hampir mirip dan menggunakan teknik yang hampir sama, foto levitasi jika dilakukan dengan benar akan sangat terasa berbeda dengan foto jump shot. Inti dari teknik foto levitasi adalah membuat seseorang terlihat senatural mungkin di udara, jadi seolah-olah orang tersebut melakukan kegiatan di udara yang biasanya dilakukan di darat.
Levitasi merupakan gabungan teknik foto dan konsep foto sehingga semakin kuat Konsep dari sebuah foto dan semakin kuat teknik foto maka semakin kuat juga efek Levitasinya. Konsep foto di sini merupakan perpaduan dari pose tubuh, ekspresi wajah, pakaian atau aksesoris yang dipakai dan Lingkungan Sekitar.
  • Pose Tubuh yang sedang jump shot biasanya bahu terangkat, dada membusung, kaki terlipat sempurna, tangan dan kaki bergerak bebas atau terlihat tidak natural, rambut yang berantakan.
  • Ekspresi wajah yang sedang jumps shot biasanya terlalu ceria, mulut terbuka lebar tanpa makna, terlihat ekspresi sedang usaha melompat (muka tertekuk misalnya).
  • Pakaian/aksesoris yang sedang jump shot biasanya berantakan, aksesorisnya juga seperti tas dan Kalung terlihat tidak natural.
  • Lingkungan sekitar juga sangat mempengaruhi apakah foto ini terlihat lompat atau terlihat terbang? Misalnya di dalam foto ada penampakan kursi atau apapun yg membuat logika kita berpikir orang ini sedang loncat dari atas kursi, maka efek levitasinya akan berkurang.
Untuk teknik foto sendiri sebenarnya sangat sederhana, secara umum hanya mengandalkan speed tinggi (minimal 1/250) dan pengambilan sudut secara low angle (memotret dari bawah) selain itu diperlukan juga cahaya yang cukup terang agar obyek foto tidak nge-blur. Karena sederhana teknik foto levitasi ini hampir dapat diterapkan pada semua jenis kamera termasuk kamera seluler dan kamera saku.

Tips fotografi pada malam hari menggunakan kamera DSLR

1. Nilai ISO
Jika mengambil gambar pada malam hari tanpa tripod, aturlah nilai ISO kamera untuk menjadi lebih sensitif terhadap cahaya yang ada. Misalnya, anda dapat menyetting nilai iso ke 1600 untuk mendapatkan hasil gambar yang lebih terang yang tentunya harus diimbangi dengan shutter spped yang lebih lambat. Namun perlu diingat juga bahwa semakin tinggi nilai iso akan menimbulkan 'noise' pada hasil jepretan. Nah, untuk mengatasi hal tersebut, sobat bisa menggunakan bantuan tripod untuk menghindari goncangan ketika shutter speed lebih di lambatkan dan mengurangi nilai iso.
2. Lambatkan Shutter Speed
Sudah saya singgung di bagian sebelumnya, bahwa untuk mendapatkan hasil jepretan yang lebih cerah, sobat harus melambatkan speed shutter. Hal ini dimaksudkan karena kaitannya dengan waktu sensor elektronik terkena cahaya selama proses pengambilan gambar. Semakin lambat shutter speed, maka akan semakin lambat sensor untuk mendapatkan cahaya. Untuk bagian ini silahkan sobat bereksperimen sendiri!
3. Gunakan Right Flash Light
Kamera DSLR dilengkapi dengan built-in flash, yang akan menjadi efisien saat digunakan untuk memotret di malam hari. Flash Built-in  menawarkan intensitas dan kecepatan yang berbeda, yang dapat diatur secara manual. Pertimbangkan selalu jumlah cahaya alami dan jarak dari subjek yang akan difoto. Untuk subyek yang bergerak, gunakan flash shutter speed 1/60 dari satu detik atau yang lebih cepat.
4. Lakukan Teknik ‘Bracketing’ 
Meskipun Anda telah memahami teknik fotografi, tetap sulit untuk mendapatkan hasil foto yang bagus hanya dengan sekali jepret. Intensitas cahaya yang berubah-ubah (mis: seiring tenggelamnya matahari) akan menjadi tantangan besar saat Anda hendak menentukan eksposur yang tepat. Kendala ini bisa dipecahkan antara lain dengan menerapkan teknik bracketing. Jepret obyek fotografi Anda sesuai dengan yang disarankan oleh lightmeter kamera. Setelah itu, ambil gambar lagi dengan lightmeter yang dinaikkan dan diturunkan satu atau dua tingkat. Kamera SLR tertentu telah ada yang memiki fitur bracketing otomatis sehingga Anda tidak perlu melakukannya secara manual.

Tips Fotografi Objek bergerak

Keseimbangan.
Pastikan posisi kamera digital anda tetap pada posisinya (tidak bergeser - geser). Anda dapat menggunakan tumpuan kamera atau yang biasa disebut tripod yang akan membuat posisi kamera anda stabil saat akan mengambil gambar. Anda dapat menanyakan tripod yang cocok untuk kamera anda di toko kamera digital.
Pencahayaan.
Mendapatkan cukup cahaya saat mengambil gambar merupakan aspek yang penting untuk menghasilkan gambar yang sempurna. Ini adalah suatu hal yang terkadang tidak dapat dihindari saat anda akan mengambil gambar pada objek yang sedang bergerak. Namun, anda dapat mengakalinya dengan mencari sudut gambar yang bagus dimana objek tersebut mendapat pencahayaan yang sempurna. Carilah tempat dimana anda dapat mengambil foto dengan kondisi tersebut. Tempat yang baik adalah dimana posisi matahari ada dibelakang anda, sehingga objek yang akan difoto mendapat pencahayaan sempurna. Cara lain adalah bergantung dari cahaya flash yang diberikan kamera digital anda. Gunakan lampu khusus pemotretan untuk mengambil gambar pada tempat yang kurang pencahayaan. Paling tidak ini dapat membantu mengurangi efek warna kuning ataupun kehijauan yang biasanya dihasilkan dari jepretan kamera digital karena kurangnya pencahayaan.
Tambahan memory.
Dapatkan hasil foto yang bagus dengan menambah kapasitas memory pada kamera digital anda. Menambahkan kapasitas memori ini akan membuat kamera anda bebas dalam mengambil foto dengan kapasitas yang besar dan dengan resolusi yang tinggi.
Foto dengan resolusi tinggi ini cenderung bersih dan jelas, sehingga jika anda memperkecil ukuran fotonya, anda tetap memperoleh gambar yang bagus. Kapasitas memory yang besar pada kamera anda membuat anda dapat mengambil gambar dalam jumlah yang banyak, sehingga nantinya anda dapat memilih dengan santai foto yang anda anggap paling bagus.
Selidiki lokasi.
Menyelidiki terlebih dahulu tempat yang nantinya merupakan tempat anda mengambil foto adalah cara yang dapat anda lakukan berikutnya dan ini sangat membantu. Melakukan survei lokasi ini paling tidak dapat membantu anda untuk menentukan sudut pemotretan dan membantu anda mengetahui sumber - sumber cahaya yang nantinya akan membantu anda dalam menghasilkan jepretan yang bagus dan sempurna.
Settingan kamera.
Anda juga dapat mengatur sendiri settingan pada kamera digital anda. Walaupun cara ini tidak terlalu membantu anda, Paling tidak anda dapat membuat pengaturan sendiri yang sesuai dengan selera anda untuk mengambil gambar.

Senin, 02 Maret 2015

Hal-Hal yang perlu di perhatikan saat anda memotret kembang api



Gunakanlah Tripod, karena Tripod dapat dapat mengurangi getaran yang menyebabkan ketajaman foto yang anda ambil kurang. Jika Saat anda memotret menggunakan tripod foto yang anda ambil dapat memuaskan.

Gunakan setting Eksposure, aperature F/16 Shutter 2″ dan ISO 100 atau bisa juga dengan settingan aperature F /14 shutter 2″ dan ISO 200.

Matikan flash, karena untuk mendapatkan foto kembang api flesh tidak lah membantu justru malah menurunkan kualitas fota yang anda ambil karena cahaya yang di hasilkan tidak merata.

Matikan AutoFocusm dan gunakan Focus manual, karena datangnya kembang api tidak dapat terduka dan kembang api yang datang minim akan cahaya.

Carilah tempat yang luas (tidak ada pepohonan yang akan menghalangi pemotretan anda). Dan arahkan kamera anda ke langit, dengan begitu di manapun kembang arah kembang api yang muncul anda dapat dengan mudah membidiknya dan mengunci target foto.

Usahakan anda jangan memotret ke arah kembang api, karena kembang api munculnya sangat tidak terduga. Oleh karena itu janganlah anda mengambil foto pada setiap arah kembang api yang muncul.

Ambil foto kembang api dengan sebanyak-banyaknya, karena kembang api yang muncul hanya beberapa saat maka usahakan saat memotret anda menggambil fotonya dengan banyak untuk mendapatkan hasil yang di inginkan.

Teknik zooming pada fotografi


Zooming merupakan teknik foto untuk memberikan kesan gerak dengan mengubah panjang fokus lensa pada saat eksposure. Perubahan panjang fokus hanya dapat dilakukan dengan lensa zoom.
Untuk mendapatkan kesan gerak, Anda harus menggunakan kecepatan rana tidak lebih dari 1/30 detik. Pada saat pemotretan, dalam waktu bersamaan dengan proses eksposure, titik fokus lensa diubah dengan menarik lensa zoom ke dalam atau ke arah luar (untuk jenis zoom yang ditarik) atau dengan cara menggeser titik fokus lensa ke kiri atau ke kanan (untuk lensa zoom jenis gelang). Sebaiknya, gunakan tripod untuk menopang kamera pada saat pemotretan. Tempatkan subjek utama pada bagian tengah foto. Pada bagian ini, ketajaman gambar relatif lebih baik dari bagian lain.
Efek zooming terbaik akan diperoleh jika background memiliki kontras dan warna yang bervariasi. Besarnya efek zooming yang diperoleh tergantung pada berapa cepat gerakan tangan Anda mengubah fokus pada saat eksposure. Teknik Foto Portrait ini dapat digunakan baik pada siang hari atau pada malam hari/kondisi pencahayaan kurang. Jika pemotretan dilakukan malam hari, Anda dapat memakai waktu pencahayaan lama dan akan memperoleh efek lampu yang membentuk garis-garis panjang cahaya.

Minggu, 01 Maret 2015

Pengertian BULB ?



BULB merupakan salah satu teknik pengambilan gambar(di fotografi) dengan menggunakan speed yang sangat lambat, saking lambatnya,sehingga tidak memungkinkan pengambilan gambar di lakukan dengan tangan kosong(berarti tangannya harus diisi..halahhh). Alat bantu yang digunakan untuk pengambilan foto bulb pada umumnya adalah tripod, agar tidak terjadi guncangan pada kamera sewaktu pengambilan gambar dilakukan yang membuat gambar berbayang.

Kapan sih kita bisa melakukan pengambilan gambar dengan teknik bulb..??

Pada umumnya foto bulb dilakukan pada malam hari.
KENAPA..???
karena pada malam hari cahaya yg ada (sebut available lights) sangatlah minim, jadi amat sangat memungkinkan untuk melakukan pengambilan foto dengan speed yang sangat rendah.dengan melakukan penyesuaian pada diafragma dengan bukaan kecil,sangat memungkinkan lagi untuk mendapatkan speed yg rendah,serta gambar yang detail(dikarenakan bukaan diafragma yg besar membuat ruang tajam semakin luas).Penggunaan ISO/ASA/biasa disebut dengan istilah 'film speed' yang sangat rendah, membuat gambar yang dihasilkan semakin tajam,karena kerapatan gambar yg dihasilkan cukup halus. Namun foto bulb tidak hanya memungkinkan dilakukan pada malam hari, namun juga siang hari, tapi tetap di tempat2 tertentu yang mempunyai pencahayaan minim

Bagaimana sih Teknik Pengambilan Foto BULB..???

-Shutter Speed rendah -->lebih dari 3 detik (agar didapat efek pergerakan dari benda yang di foto )

-Diafragma Kecil -->11-22 (Untuk mendapatkan ruang tajam keseluruhan gambar lebih luas dan memungkinkan shutter speed lebih lambat)

-ISO/ASA serendah mungkin --> <200 (Agar mendapatkan hasil yang cukup halus, serta tidak pecah bila mengalamin perbesaran)

-Menggunakan Tripod & kabel release (bila ada) --> untuk mengurangi guncangan agar gambar yang dihasilkan tidak berbayang.

-MemFokuskan object -->foto bulb tidak hanya sekedar foto landscape(pemandangan/view) saja.melaikan dapat juga ditentukan sebuah objek foto dengan Foreground atau background efek cahaya bergerak (Moving Lights)

-Metering Objek-->dimaksudkan agar objek yang difoto dapat tergambar dengan pencahayaan yang cukup jelas,kecuali jika sang fotografer mempunyai maksud lain dengan men-Set metering objek Under atau Over expos.

Kamera DSLR dan Shutter Speed


Kamera SLR:


Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik ( viewfinder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Fotografi berkaitan erat dengan cahaya, maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed ( Kecepatan Rana ) dan Aperture ( Diafragma ).


Shutter Speed :


Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.

Perpustakaan UII Raih Akreditasi “A” dari Perpusnas RI

Image
Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil memperoleh akreditasi A dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) berdasarkan sertifikat akreditasi perpustakaan nomor 29/1/ee/XII.2014. Raihan prestasi ini berhasil ditorehkan karena para asesor menilai Perpustakaan UII memiliki beberapa keunggulan dan sistem manajemen mutu yang baik. Sebagai gudang ilmu sekaligus jantung aktifitas akademik di kampus, keberadaan perpustakaan terakreditasi tentunya sangat penting guna menunjang pembelajaran di perguruan tinggi.
Akreditasi nasional perpustakaan pada dasarnya merupakan cerminan dari kualitas pelayanan sekaligus kelengkapan infrastruktur dan koleksi perpustakaan. Adanya akreditasi ini tidak lain sebagai legitimasi yang kredibel dan juga menjadi salah satu indikator penting bagaimana suatu eksistensi institusi pendidikan dapat memahami dinamika secara komprehensif.
Disampaikan oleh Kepala Perpustakaan UII, Joko Sugeng Prianto, SIP, M.Hum bahwa raihan akreditasi ini semata-mata adalah karunia Allah SWT yang patut disyukuri oleh segenap sivitas akademika UII. “Kita patut bersyukur karena Perpustakaan UII yang notabene adalah perpustakaan universitas swasta mampu menunjukkan kualitas yang sejajar dengan perpustakaan yang dimiliki oleh universitas negeri. Ini semua tidak terlepas dari kerja keras teman-teman semua”, ungkapnya.
Ia menceritakan awal rangkaian akreditasi perpustakaan dimulai dengan adanya rencana kunjungan asesor Perpusnas RI yang dijadwalkan pada awal bulan Desember 2014. Selama masa tunggu itu, pihaknya intens mempersiapkan berbagai dokumen penunjang kelengkapan akreditasi. Di samping itu, ia juga menjalin komunikasi dengan pimpinan UII dan pihak Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY untuk memperoleh masukan dalam penyiapan akreditasi tersebut. “Masukan dan dukungan pimpinan UII serta pihak BPAD DIY sangat bermanfaat dalam menguji kesiapan kami sebelum menjalani akreditasi”, ujarnya. Adanya audit mutu internal yang rutin dilakukan di UII juga turut memberikan kesiapan mental dan material sebelum menjalani visitasi dari asesor.
Ketika disinggung tentang poin apa saja yang mendapat penilaian positif selama akreditasi, ia membeberkan bahwa setidaknya terdapat sembilan indikator penilaian akreditasi yang dilihat asesor, seperti aspek layanan, kerjasama, kelengkapan koleksi, pengorganisasian materi perpustakaan, SDM, sarana prasarana, dsb. “Poin tertinggi dari penilaian disumbangkan oleh kualitas layanan perpustakaan, kelengkapan koleksi, dan SDM. Di ketiga penilaian ini kita mendapat skor yang tinggi”, tambahnya.
Selain itu, pihak asesor juga mengapresiasi inisiatif Perpustakaan UII yang tengah mengembangkan software untuk menilai angka kredit pustakawan, yang masih tergolong baru di bidangnya. Sementara SDM Perpustakaan UII juga diapresiasi karena telah banyak pustakawan UII yang mengantongi gelar pendidikan dari sarjana hingga magister sesuai dengan bidang ilmunya.
Ke depan, ia ingin agar raihan akreditasi ini tidak berhenti sampai di sini. “Kami akan terus mengembangkan diri agar Perpustakaan UII dapat memberi kontribusi maksimal. Fokus pengembangan ada di dalam peningkatan kualitas layanan, SDM, dan koleksi jurnal online yang kita miliki”, pungkasnya.

Mahasiswa UII Teliti Upaya Peningkatan Resiliensi Mantan Penyalahguna Narkoba

Image
Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya, ternyata merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat penyalahgunaan narkoba yang cukup tinggi. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), di tahun 2013 saja angka pengguna narkoba di provinsi ini tercatat mencapai 87.432 orang dan diprediksi terus meningkat setiap tahunnya. Angka ini sebagian besar disumbang oleh penyalahguna narkoba yang berasal dari angkatan usia muda. Para penyalahguna narkoba yang telah menjalani proses rehabilitasi masih memiliki kemungkinan untuk kembali terjerumus dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang ini.
Hal ini dapat disebabkan karena mantan pengguna sering menghadapi kerentanan kondisi emosional di mana muncul pikiran otomatis untuk kembali menggunakan narkoba. Selain itu, faktor lain yang juga berpengaruh adalah stigma negatif dari keluarga dan masyarakat, serta tekanan sosial yang mereka hadapi pasca rehabilitasi sehingga menyebabkan memilih narkoba sebagai pelarian. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan psikologis yang intensif bagi mantan penyalahguna narkoba untuk meningkatkan ketahanan mereka agar tidak kembali menggunakan narkoba.    
Hal inilah yang menjadi kajian penelitian mahasiswa magister profesi psikologi UII, Mar’atul Jannah Umbola. Ia berupaya membantu meningkatkan ketahanan para mantan penyalahguna narkoba dari godaan untuk kembali mengkonsumsi narkoba melalui pendekatan terapi psikologis yang pernah dipelajarinya di Mapro Psikologi UII.
Metode yang disebut dengan terapi Mindfulness-Based Relapse Prevention (MBRP) ini merupakan terapi yang dikhususkan bagi para penyalahguna narkoba yang menggabungkan kombinasi dari pendekatan kognitif dan perilaku dan pendekatan cara berpikir. Ia mendasarkan penelitiannya ketika mengikuti kerja praktek selama 6 bulan di sebuah pusat rehabilitasi narkoba yang berada di Kabupaten Sleman.
“Munculnya keinginan untuk kembali menggunakan narkoba didasari oleh sensasi pengalaman yang pernah dialami ketika memakai narkoba yang menurut mereka memberi harapan menghilangkan stres dan tekanan-tekanan yang dihadapi”, ungkapnya. Pengalaman itu biasanya kembali bangkit ketika mantan penyalahguna narkoba menghadapi masalah atau stres yang tidak dapat mereka temukan jalan keluarnya. Oleh karena itu, seorang psikolog memainkan peran dengan memberikan terapi MBRP agar keinginan tersebut tidak berekskalasi menjadi tindakan kembali mengkonsumsi.
Terapi yang diberikan pada tahap awal adalah berupa keterampilan untuk dapat mengendalikan emosi yang tidak stabil dan keinginan memakai narkoba yang terkadang muncul kembali. “Mantan pengguna biasanya sering mengalami kondisi emosi yang mudah meletup-letup sehingga mereka kesulitan untuk berpikir jernih. Di sini kami mengajarkan lewat meditasi sebagai cara meraih kembali ketenangan dalam berpikir”, imbuhnya.
Setelah itu, tahap selanjutnya adalah mengubah perilaku kognitif mantan pengguna yang dilakukan dengan cara menanamkan semangat dan pemahaman bahwa mereka mampu menghadapi permasalahan dan stres tanpa narkoba. “Pikiran yang sering muncul, narkoba dianggap sebagai jalan keluar dan pelarian sementara dari masalah. Kita berupaya mengajak mantan pengguna berdialog dan mengembangkan kemampuan diri sendiri untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi”, ungkapnya. Lewat kedua hal ini diharapkan mantan pengguna memiliki strategi yang jitu untuk melindungi diri sendiri dari narkoba.
Ketika disinggung tentang peran psikolog dalam kampanye perang melawan narkoba, mahasiswi kelahiran Manado ini menuturkan bahwa psikolog dapat berperan dalam memberi psiko edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana menghadapi mantan pengguna. “Hal ini sangat penting karena kesuksesan terapi juga bergantung dari dukungan lingkungan sosial yang ada di sekitar mantan penyalahguna narkoba”, pungkasnya.

FPSB UII Gelar Konferensi Nasional Psikologi Islam

Image
Dunia Islam selama ini dinilai kerap kali mengadopsi ilmu psikologi yang berbasis pada masyarakat Barat tanpa mengkajinya secara mendalam. Hal ini perlu untuk dikaji kembali mengingat ilmu psikologi Barat pada prinsipnya merupakan respon atas berbagai problem yang dihadapi oleh masyarakat Barat itu sendiri yang erat dengan nilai-nilai budaya yang dimilikinya. Terlebih perkembangan masyarakat Barat modern menjadikan sekulerisme sebagai prinsip hidup dalam ruang sosial.
Pemisahan antara hal-hal yang dipandang sebagai bagian dari nilai agama dan hal-hal bersifat duniawi harus dilakukan. Kenyataannya, problem sosial-psikologis yang dihadapi oleh masyarakat Barat kian meningkat. Berawal dari isu menarik ini, Program Studi S1 Psikologi dan Magister Profesi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (FPSB UII) menggelar The 1st National Conference on Islamic Psychology (NCIP) dan The 1st Inter-Islamic University Conference on Psychology (IIUCP), pada 27-28 Februari 2015, di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta.
Hadir sebagai keynote speaker, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 2015-2019, Anies R. Baswedan, Ph.D. Sementara sejumlah tokoh Nasional yang hadir sebagai pemateri plenary session tentang kepemimpinan profetik dan intervensi psikologi Islam yakni Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013, Prof. Dr. Mahfud MD, Peneliti Kepemimpinan Profetik, Sus Budiharto, M.Si., Psikolog, Ketua PP Asosiasi Psikologi Islam, Drs. Subandi, Ph.D., Dosen Prodi Psikologi UII, Dr. H. Fuad Nashori dan Prof. Dr.dr. Suhartono Taat Putra, Sp.PK,MS. dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Anies R. Baswedan, Ph.D. dalam materinya mengatakan, Indonesia perlu mengembalikan kepercayaan baik diantara masyarakat, maupun masyarakat dengan Negara yang saat ini telah mengalami penurunan kepercayaan. Dalam kata lain Indonesia membutuhkan ihktiar serius untuk melakukan penataan ulang. Dan ini menurutnya hanya bisa dilakukan jika dikerjakan secara bersama-sama dan jika ada kepemimpinan yang dipercaya. “Saat ini yang paling krusial dan hendaknya dapat didorong kembali bila melihat dari konsep profetik adalah sikap amanah,” ungkapnya.
Disampaikan Anies R. Baswedan, kepercayaan dapat diartikan dalam persamaan kompetensi ditambah dengan Integritas serta kedekatan, yang kemudian dibagi dengan self interest. Ketiga hal inilah yang menurutnya dapat membangun sebuah kepercayaan, dan kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang bisa dipercaya. Selain itu berkenaan dengan kepemimpinan (leadership) juga perlu diliat soal waktu untuk membuktikan, hal ini menurut Anies R. Baswedan sering tidak ada dalam hubungan anatara leadership dan follower.
Sementara Prof. Mahfud MD dalam kesempatannya mengatakan, di Indonesia sebenarnya telah memiliki konsep kepemimpinan yang berakar dari budaya bangsa yang semuanya sama dengan yang diajarkan oleh Islam. Beberapa hal yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin menurut Prof. Mahfud MD antara lain yakni ketegasan sikap, rasa empati, dapat memberi petunjuk, konsisten, lapang dada dan dapat memberikan harapan.
Berkenaan penyelenggaran seminar secara subtansi Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ir. Ilya Fajar Maharika, MA, IAI, mengatakan, UII sangat menghargai dan berupaya mengembangkan diskursus tentang kepemimpinan menjadi salah satu nilai inti didalam pendidikannya. “Kita melihat bahwa dalam mendidik tugas universitas itu ada tiga, pertama untuk memproduksi manusia-manusia yang selain provesional juga mempunyai kapasitas keilmuan yang baik dan beradab, kedua menjadi sumber pengetahuan yang bisa dipakai oleh masyarakat luas dan yang ketiga adalah membangun teladan yang baik atau uswatun hasanah,” ungkapnya.
Resnia Novitasari, S.Psi., M.A. selaku ketua panitia menyampaikan, penyelenggaraan National Conference on Islamic Psychology (NCIP) untuk kali pertama ini dilakukan sebagai upaya untuk mengembangkan Psikologi Islam secara berkelanjutan. Fokus kegiatan mengarah pada dua hal, yakni persoalan kepemimpinan di Indonesia dan persoalan pengembangan intervensi pengembangan Psikologi Islam sebagai pemberian bantuan atas problem psikologis, baik individual maupun kelompok.